(JAYAPURA) — Sebuah video yang memperlihatkan sosok almarhum (JAAP) Solossa kembali beredar di berbagai grup WhatsApp dan mengundang ruang refleksi bagi banyak orang.
Bukan sekadar menghadirkan kenangan tentang seorang tokoh Papua, tetapi juga mengingatkan kembali tentang nilai-nilai kehidupan yang pernah hidup kuat dalam generasi terdahulu.
Di tengah arus perubahan zaman yang semakin cepat, muncul satu pertanyaan penting: nilai apa yang sebenarnya terkonsolidasi dalam kehidupan para pendahulu sehingga mereka mampu melahirkan karya-karya besar bagi masyarakat dan daerahnya?
Generasi terdahulu dikenal memiliki karakter yang dibangun bukan hanya dari pengalaman hidup, tetapi juga dari nilai-nilai yang menjadi pegangan utama dalam perjalanan mereka.
Dalam refleksi kehidupan masyarakat Maybrat, terdapat dua hal yang diyakini menjadi fondasi penting, yakni tradisi spiritualitas Teofani dan tradisi filosofis yang dikenal dengan istilah anu beta tubat.
Nilai-nilai tersebut tidak sekadar dipahami sebagai warisan budaya, tetapi benar-benar dihidupi dalam keseharian.
Salah satu bentuk penghayatan yang paling menonjol adalah sikap menunduk, mau dituntun, dan bersedia diperintah oleh nilai-nilai kehidupan.
Padahal, dalam kenyataan hidup manusia, kerendahan hati bukanlah hal yang mudah. Kecenderungan manusia sering kali mengarah pada keinginan untuk meninggikan diri dan merasa paling benar.
Namun para pendahulu justru memilih jalan yang berbeda. Mereka menempatkan kerendahan hati sebagai kekuatan utama dalam menjalani kehidupan.
Dari sikap tersebut lahirlah ketekunan, kesabaran, dan kemampuan untuk menempuh perjalanan panjang dengan penuh konsistensi.
Tidak sedikit dari mereka yang kemudian berhasil menghasilkan berbagai karya dan terobosan besar yang hingga kini masih dinikmati oleh generasi berikutnya.
Karena itu, pelajaran yang perlu diwarisi bukan hanya hasil karya mereka, melainkan juga nilai yang menghidupi proses perjalanan hidup mereka.
Pemikiran serupa pernah disampaikan filsuf Jerman, Johann Wolfgang von Goethe, yang mengatakan bahwa "yang abadi adalah perubahan." Pandangan tersebut menegaskan bahwa perubahan besar selalu dimulai dari perubahan-perubahan kecil dalam diri manusia.
Goethe diyakini tidak hanya berbicara tentang perubahan secara teori, tetapi juga menghidupinya melalui perjuangan melawan rasa puas diri, kemalasan, dan kecenderungan untuk meninggikan diri. Sikap itu membuatnya terus belajar, meneliti, dan menghasilkan berbagai karya pemikiran besar.
Nilai tersebut memiliki kesamaan dengan perjalanan hidup generasi terdahulu di Papua.
Meski lahir dari tempat dan latar kehidupan yang berbeda, terdapat satu frekuensi yang sama, yakni kesadaran bahwa perubahan selalu dimulai dari kerendahan hati, kemauan untuk belajar, serta kesediaan untuk dituntun oleh nilai-nilai kehidupan.
Pada akhirnya, karya besar tidak lahir secara tiba-tiba.
Ia tumbuh dari proses panjang, dari kebiasaan kecil untuk menundukkan diri, memperbaiki hati, dan menjaga nilai tetap hidup dalam setiap langkah kehidupan.(***)
#Melawan Lupa.#