Type Here to Get Search Results !

129 Hari di Ujung Senjata: Tragedi Mapenduma 1996 yang Mengguncang Papua dan Dunia


Pada 8 Januari 1996, sunyi Pegunungan Tengah Papua pecah.

Bukan oleh gemuruh alam, tapi oleh senjata, sandera, dan pesan politik berdarah.
Di Mapenduma, Distrik Tiom, Jayawijaya—wilayah yang bahkan peta pun sering lupa—Organisasi Papua Merdeka (OPM) di bawah komando Kelly Kwalik melakukan aksi yang mengubah sejarah konflik Papua: penyanderaan besar-besaran selama 129 hari.
Sebanyak 26 orang, warga lokal hingga peneliti asing, berubah status dari tamu dan penduduk menjadi alat tawar ideologi.
---

🔳 Ekspedisi Ilmiah yang Berubah Jadi Neraka

Mereka datang membawa misi damai: Ekspedisi Lorentz 95, riset flora-fauna kawasan Lorentz yang dilindungi dunia.
Namun hutan Papua punya cerita lain.
Sebelas peneliti—empat warga Inggris, satu Jerman, satu Belanda, dan sisanya warga Indonesia—disergap.
Nama-nama muda ikut terseret: Daniel Start (22), Anna McIvor (21), Bill Oates (23)—usia yang seharusnya sibuk menata masa depan, bukan menatap laras senjata.
Yang bikin dada sesak:
seorang bayi enam bulan ikut disandera.
Berita itu akhirnya tembus ke Kodim Jayawijaya, lalu naik cepat ke Kodam Trikora. Papua mendadak jadi pusat perhatian nasional—dan perlahan, dunia.
---

🔳 Negosiasi, Doa, dan Radio SSB

ABRI (kini TNI) memilih jalur persuasif.
Pasukan dikirim, tapi peluru ditahan.
OPM membuka komunikasi lewat radio SSB, meminta satu nama penting: Uskup Herman Munninghoff dari Jayapura.
Agama dijadikan jembatan terakhir di tengah konflik politik.
Tiga tokoh gereja dikirim.
Obat-obatan, selimut, mie instan, bahkan rokok—semua masuk hutan.
Bukan untuk memanjakan, tapi menjaga sandera tetap hidup.
Beberapa sandera dilepas perlahan.
Seorang ibu dan bayinya akhirnya bebas.
Satu WNA Jerman dibebaskan sebagai “utusan pesan ke dunia”.
Tapi damai masih jauh.
---

🔳 PBB Turun Tangan, Dunia Menahan Napas

19 Januari 1996, Sekjen PBB Boutros Boutros-Ghali angkat suara.
Reuters melaporkan kehadiran detektif Scotland Yard di Papua.
Surat sandera sampai ke kedutaan Inggris, Jerman, dan Belanda.
Mapenduma tak lagi isu lokal.
Ia jadi krisis internasional.
Namun pada 25 Januari, OPM memutus komunikasi.
Sandera dipindahkan.
Lokasi berubah.
Hutan makin sunyi—dan makin berbahaya.
---

🔳 Gua Kelelawar dan Ultimatum Merdeka

Februari 1996.
Sandera dipindahkan ke “gua kelelawar”, tujuh meter di atas tanah, akses sempit, gelap, lembap.
Ini bukan lagi penyanderaan—ini uji mental dan fisik.
ICRC turun tangan.
Negosiasi berlangsung berbulan-bulan.
Tawaran damai ditolak.
Akhirnya tuntutan keluar terang-terangan:
Pengakuan kemerdekaan Republik Papua Barat—atau sandera tak akan pulang.
---

🔳 Konflik di Dalam OPM dan Surat dari Paus

Bahkan di tubuh OPM sendiri, konflik pecah.
Pimpinan luar negeri Moses Weror memerintahkan pembebasan.
Alasannya sederhana: pesan sudah sampai ke dunia.
Tapi Kelly Kwalik dan Daniel Kogoya menolak.
Ancaman pembunuhan sandera pun dilontarkan.
Ironisnya, Paus Yohanes Paulus II sampai mengirim surat meminta pembebasan.
Namun suara moral kalah oleh kerasnya senjata.
---

🔳 Operasi Militer: Akhir Berdarah 129 Hari

Negosiasi gagal.
Waktu habis.
Dengan izin negara-negara terkait, Indonesia memilih jalan terakhir.
Di bawah komando Prabowo Subianto, pasukan Kopassus bergerak.
Helikopter menyisir hutan.
Drone RPVs disewa dari Singapura.
Operasi pertama gagal—tapi pantang mundur.
Akhirnya, lokasi ditemukan.
Operasi militer pecah.
Sembilan sandera selamat.
Namun dua warga Indonesia—Navy Panekenan dan Yosias Mathias Lasamuhu—tewas dibacok sebelum diselamatkan.
Delapan anggota OPM tewas.
Dua ditangkap.
Lima prajurit TNI gugur akibat kecelakaan helikopter.
Mapenduma berakhir—
tapi lukanya tidak.
---

🔳 Warisan Kelam yang Tak Pernah Benar-Benar Selesai

Mapenduma 1996 bukan sekadar penyanderaan.
Ia adalah potret konflik Papua, tarik-menarik politik, kemanusiaan, dan kekerasan bersenjata.
129 hari cukup untuk membuat dunia menoleh.
Namun belum cukup untuk menyelesaikan masalah yang lebih dalam.
Dan sampai hari ini,
nama Mapenduma masih bergema—
sebagai peringatan, bukan sekadar catatan sejarah.
--

Post a Comment

0 Comments
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

Top Post Ad

Below Post Ad

Hollywood Movies